Selasa, 14 April 2020

Ngopi di 'Gudang Kopi'

Annyeong chingudeul~
 
Akhir-akhir ini dihidup gue tiada hari tanpa nongkrong, sejak gue punya teman-teman yang se-tongkrongan (?), walaupun cuma bercerita receh yang gak ada gunanya ataupun sekedar untuk ‘menonton’ handphone masing-masing. Membahagiakan.

Teman nongkrong gue biasanya itu-itu aja karena pada dasarnya gue gak punya teman. Dalam hitungan 5 jari, jari gue gak pernah habis untuk digunakan untuk menghitung teman ‘dekat’ yang bisa dikatakan sahabat, mungkin untuk sahabat gue emang gak punya. Maukah kamu menjadi sahabatku? *AngelEyes *ModeOn. Haha
 


Teman nongkrong gue didominasi sama teman kantor yang kalau ngumpul bakalan rame. Dan gue satu-satunya orang yang 'gak rame' disana dan berfungsi sebagai best listener ever,  haha. Tongkrongan itu bakalan kebentuk oleh orang-orang yang ‘senada’, visi yang sama dengan misi yang kadang berbeda beda, tapi pada dasarnya tujuan dari tindakan mereka sama.

Tempat nongkrong kami selalu sama dan sesekali mengeksplore wilayah Payakumbuh dan Limapuluh Kota untuk dijadikan tempat nongkrong baru, tapi SANGAT JARANG. Karena kondisi kami yang bertempat tinggal tidak saling berdekatan sehingga sulit untuk mencari lokasi-lokasi baru.

Walaupun pekerjaan kami tidak mengharuskan stay dikantor 8 jam, 5/7, tapi ada keharusan untuk gak jauh-jauh dari kantor karena MUNGKIN ada kondisi yang mendadak yang mengharuskan untuk segera tiba dikantor.
 
Salah satu tempat tongkrongan baru yang kami jumpai di daerah Payakumbuh/ Limapuluh Kota adalah “Gudang Kopi”. Sebuah tempat minum kopi yang mereka namai dengan Gudang Kopi. Tempat ini  bukan berarti “tempat penyimpanan kopi”, tapi gue gak tau kenapa mereka menamai tempat ini dengan Gudang Kopi.

Gudang Kopi berada di daerah “Sibaladuang”, termasuk ke Kecamatan Luak, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. (I’ve tried to find the exactly location of this place, tapi setelah menanyakan ke beberapa teman gue, mereka gak tau persis dimana tempat ngopi ini berada. So, if you wanna go to this place, just ask me, gue bakalan anterin Lo.)
 
Dibalik warna hijau ini ada pemandangan kota kecil Payakumbuh

Untuk mencapai lokasi ini gak mudah, karena bukan jalan untuk kegiatan umum. Berada di daerah perbukitan dengan jalan yang bukan aspal, mungkin bagi kamu yang tidak terlalu mahir dalam berkendara bakalan kesusahan.

Bagi gue, jalanan menuju tempat itu tergolong buruk dan rusak, jalannya kecil dan cukup untuk dilalui 1 buah mobil. Dan jika papasan, bisa sih untuk jalan tapi, you must have a good “drive’ skill”. Bagi beberapa teman gue, jalanan menuju tempat itu, well good, gak buruk-buruk amat. Setelah berkendara sekitar 5-10 menit dari jalan “bagus” terakhir, kamu juga harus sedikit nanjak menuju tempat ini.

Ada 2 jalan sebenarnya, 1 jalan lagi, chingudeul gak harus jalan kaki dan bisa parkir tepat disamping cafe, tapi jalan yang harus dilalui lebih sedikit parah. 1 jalan lagi, chingudeul harus nanjak.
 
Orang-orang 'unknown' dengan tongkrongannya masing-masing

Setelah sampai ke cafe (semoga  owner-nya bilang ini cafe), chingudeul bakalan disuguhkan sama pemandangan Kota Payakumbuh dan sebagian kecil Kabupaten Limapuluh Kota yang sangat memanjakan mata. Kota kecil yang masih hijau dan dipenuhi dengan bangunan rumah yang sewajarnya daerah pedesaan serta perbukitan yang asri, suasana cafe yang outdoor dengan cuaca yang sejuk. Beautiful.
 
Back to cafe, di cafe ini sendiri mengusung tema outdoor dengan tidak memiliki banyak menu minuman dan makanan. Untuk minuman sendiri, mereka hanya menyediakan minuman panas yang terdiri dari kopi dan coklat saja. 

Untuk makanan, mereka hanya menyediakan Pop Mie dan aneka gorengan yang hanya kamu dapatkan kalau beruntung. LOL.

Cuaca sejuk, dingin, perut keroncongan, capek nanjak, Orang tercinta dan Pop Mie adalah perpaduan rasa dan suasana yang sangat cocok. Setuju? (Orang tercinta?, iyain aja please,  hahaha).
 
Gue

Coklat panas yang udah mulai dingin karena cuaca yang dingin serta hati peminumnya yang selalu dingin


2 kali ke tempat ini gue selalu pesan Coklat panas, teman gue bilang coklat panas disini the best. Menu lainnya seperti kopi latte, espresso, dan teman-teman kopi lainnya.

Gue gak terlalu paham perkopian walaupun gue pernah kuliah “perkopian” beberapa semester. Dan gue anak baru ditongkrongan perkopian yang juga jarang pesen kopi karena takut asam lambung yang meningkat. #CurhatTerus
 
Mendung 😍😍


Gue suka mendung, karena bagi gue mendung adalah salah satu momen yang sulit lo tebak. Bisa hujan, bisa cerah, tapi apapun kondisinya gue juga suka, gue penikmat hujan yang tenang dan gue juga penikmat hari-hari yang cerah. Sama halnya gue, gue sulit ditebak, tapi gue harap, apapun kondisi gue setelah mendung, kamu bakalan terima. Kamu? Iya kamu!?! *Dodit #ModeOn.
 
Cafe ini didominasi sama kaum-kaum muda dan ibu sosialita, anak kantoran juga ada, bapak-bapak juga ada, tante-tante juga ada, pasangan muda, pasangan ibu-bapak, bukan pasangan juga ada. Pasangan orang ada gak ya?
 
Terakhir kali gue ke cafe ini, kami pulang persis sebelum magrib, sebelum gelap. Dan suhu disana udah mulai dingin.

Kalau chingudeul pengen berkunjung disore hari atau malam, sebaiknya menggunakan pakaian yang sedikit tebal untuk melindungi tubuh kamu, apalagi kalau kamu datang sendiri tanpa pasangan, bakalan tambah dingin.LOL.

Keinginan gue adalah datang ke tempat ini lagi sampai malam hari, karena cantik sekali, lebih cantik dibandingin siangnya karena pada malam hari, chingudeul akan dimanjakan dengan pemandangan lampu rumah warga. 

Foto teman-teman sosial media gue, punya the best pemandangan malam di tempat ini. Satu hal lagi yang gue suka, malam, dingin, gelap, lampu secukupnya dan Kamu. Hahaha.. (pokoknyakamu)
 


 


Senin, 30 Maret 2020

Dampak Corona Bagi Anak Rumahan


Annyeong teman-teman rebahan yang lagi merdeka..

Sekarang ini, kaum rebahan dianggap sebagai penyelamat bangsa. Hal ini disebabkan karena mewabahnya sebuah virus yang baru ditemukan. Awal mulanya virus ini ditemukan tahun 2019 lalu di daerah Wuhan, Provinsi Hubei, China. 

Virus ini bisa menyerang manusia dan hewan. Pada manusia, virus ini menyerang saluran pernafasan, mulai dari flu biasa sampai ke penyakit lainnya seperti MERS dan SARS. Virus ini dinamakan virus Corona. 

Dikarenakan virus ini baru di temukan pada tahun 2019, maka virus ini dinamai Corona Virus Disease 19 atau yang lebih dikenal dengan Covid-19 (virus ini bukan dibawah naungan Dewa-19 yak, ).

Penyebaran virus ini tergolong sangat cepat yang bisa di tularkan dari manusia ke manusia lainnya. Misalnya jika ada seseorang yang positif Covid-19 mengalami batuk atau bersin disebuah kerumunan, bisa saja molekul batuk atau bersin tersebut mengandung virus yang kemudian terjadi perpindahan molekul tersebut ke orang lain, orang lain tersebut bisa tertular virus ini (correct me if i am wrong, gue bukan ahlinya, tapi pengen sharing pemahaman gue tentang virus ini).

Untuk memutus rantai penularan yang sangat cepat ini, pemerintah dan para dokter gak bosan-bosannya meneriakkan jargon mereka “#dirumahaja”. 

Orang-orang yang sehat dan belum tertular ini dihimbau untuk tidak membuat kerumuman, tidak membuat keramaian, menjaga jarak aman dan yang paling penting adalah #dirumahaja. Tapi rakyat indonesia, apakah semudah itu untuk tetap tinggal dirumahnya?

Tagar dirumahaja memang menjadi moment paling merdeka bagi mereka-mereka yang sudah biasa menghabiskan waktunya dirumah atau bagi mereka-mereka yang mager dan mereka-mereka kaum rebahan. 

Tapi bagi sebagian orang, sulit untuk bisa #dirumahaja, faktor pekerjaan mungkin, ada keharusan bagi mereka supaya tidak #dirumahaja, banyak contohnya. Dan sebagian lagi, mereka yang tidak bisa #dirumahaja adalah mereka-mereka yang tidak terlalu aware dan tidak memiliki pemahaman tentang  bahaya penularan Covid-19 ini.

Gejala awal yang ditimbulkan dari Covid-19 ini antaranya batuk, demam, dan susah bernafas dan sebagian dari mereka yang terjangkit virus, tidak menunjukkan gejala apa-apa. Ini sangat berbahaya karena mereka seakan-akan baik-baik saja tapi ternyata membawa virus yang bisa menularkannya kepada orang lain. 

Oleh sebab itu, pemerintah dan tenaga medis lantang menyuarakan #dirumahaja, karena kita gak pernah tau, kita membawa virus atau enggak, karena semua dari kita belum dilakukan pemeriksaan positif Covid-19 atau nagatif. Kalau kita mempunyai imunitas yang baik, bisa jadi jika terjangkit virus, kita tidak merasakan apa-apa, tapi tetap virus yang ada tersebut bisa ditularkan kepada orang lain.

Di Indonesia, DKI Jakarta menjadi daerah paling banyak positif Covid-19. Hampir semua provinsi di Indonesia mempunyai pasien positif Covid-19, tak terkecuali Sumatera Barat. Di Sumatera barat sendiri, per tanggal 30 Maret 2020, sudah 8 orang positif terjangkit Covid-19, 1 orang diantaranya meninggal.

Sebagai upaya pencegahan penularan covid-19 ini, perintah sudah meliburkan guru dan para siswanya, sebagian perkantoran menjalankan “Work From Home (WFH)”. Pemerintah bukan semata-mata meliburkan mereka, tapi bekerja dari rumah dan belajar dari rumah. Di daerah gue sendiri, siswa-siswa diberikan tugas-tugas dan adanya beberapa yang melakukan kelas online.

Di Payakumbuh sendiri, sudah melakukan pembatasan wilayah. Mereka yang akan masuk ke Payakumbuh, terlebih dahulu disemprot dengan desinfektan, sudah dilakukan penyemprotan desinfektan ditempat-tempat umum, kemudian juga melakukan pembubaran jika masih ada kerumunan.

Pasien Covid-19 sendiri dibagi menjadi beberapa bagian. Pertama, ODP (Orang dalam pemantauan), orang-orang ini adalah orang-orang yang berasal dari daerah “terjangkit”, belum menunjukan gejala, atau pernah berinteraksi dengan si positif Covd-19. 

Kedua, PDP (pasien dalam pengawasan), adalah orang yang bergejala demam, batuk dan pernah kontak dengan pasien Covid atau datang dari daerah “terjangkit” Covid-19, tapi paru-paru masih aman dan mereka masih menunggu hasil pengecekan Covid-19.

Sejak Covid-19 masuk ke wilayah Sumatera Barat, sebagian wilayah sudah mulai sepi, Payakumbuh misalnya. Ini adalah jalanan di kota Payakumbuh sekitar pukul 3 sorean, biasanya setiap hari minggu jalanan ini sangat ramai, dipenuhi orang-orang yang bepergian, sejak adanya Covid-19, jalanan serasa milik emak lo, kalau mau sen kiri belok kanan masih aman. Hahaha



 tempat-tempat perbelanjaan juga sepi.


beberapa orang terlihat membeli bahan-bahan makanan. semacam panic buying, enggak juga. mereka cuma membeli beberapa snack dan bahan masakan, sebagai amunisi bagi kaum rebahan pada umumnya. haha






Semingguan lebih gue udah gak pernah beraktifitas diluar rumah kecuali untuk keperluan yang mengharuskan gue keluar, misalnya beli bahan makanan. 

Gue sudah work from home. Pada dasarnya pekerjaan gue adalah pekerjaan lapangan yang mengharuskan untuk bersosialisasi dengan masyarakat, kemudian menyelesaikan administrasi-administrasi dari rumah, karena sistem kami sudah support pekerjaan #dirumahaja.

Tapi sejak adanya Covid-19 itu, sosialisasi ditunda karena tiap kali gue sosialisasi, gue melibatkan banyak orang dan menciptakan kerumuman dan keramaian, jelas hal yang dilarang untuk dilakukan. Gue gak punya kantor resmi yang mengharuskan gue datang 8 jam perhari, selama ini gue nyari kerjaan aja untuk self development (bahasa gue, walaupun ditempat yang rame gue bakalan sibuk sama diri sendiri.

Sejak Covid-19, gue seakan-akan malu untuk keluar rumah dan nyari kesibukan di luar rumah. Jadi, gue, seakan-akan balik kayak pengangguran dulu (sad).

Gue harus keluar rumah untuk membeli keperluan bahan makanan, pake masker,  karena sedikit batuk karena minum air es yang lumayan sering karena payakumbuh lagi Hareudang sekali.  Pake masker itu buat yang sakit dan untuk yang beresiko.  Oke.  Btw,  difoto ini gue senyum atau enggak?  


Selama #dirumahaja, gue menghabiskan waktu untuk nonton youtube, nonton drama korea, crafting, masak dan lebih meluangkan waktu untuk nulis blog, ide-ide kreatif sedikit meningkat sejak gue gak kemana-mana. Banyak hal positif yang bisa dilakuin #dirumahaja, #dirumahaja bukan berarti kita gak ngapa-ngapain.

Gue yakin gue punya cukup imun yang bagus untuk ngelawanan virus jikalau gue terjangkit virus ini. Gue yakin imun gue lebih kuat buat defense sama virus karena gue masih muda, dan gue sehat. Tapi gue tetap memilih untuk #dirumahaja untuk melindungi orang-orang yang mungkin imunnya gak sebagus gue.

Suntuk dan bosan pasti, hold on a little more, supaya virus ini segera putus penularannya, gak ada yang menularkan dan tertular lagi, supaya bisa beraktifitas seperti biasanya. 

Gak kemana-mana itu sumpah sangat bosan. Bagi gue anak rumahan aja, bosannya sangat memuncak apalagi bagi orang-orang yang mobilitasnya sangat tinggi. Jujur gue kangen ngopi, ngobrol receh, ngobrolin hal gak penting sampai penting banget, kangen ngegosip, kangen gerahnya ruangan yang sangat sempit dengan beragam sifat orang didalamnya. 

Sejak gue punya temen “nongkrong”, gue lebih banyak menghabiskan waktu bersama mereka diluar rumah, sejak Covid-19 menyerang, gue kesepian, gak pernah ketemu mereka lagi, gue pernah lebih lama dari ini gak berinteraksi bersama mereka, tapi kali ini, ada keharusan yang membuat lo gak bisa ketemu sama orang-orang yang biasanya lo interacted with, berasa lagi dipenjara gak sih?

Ternyata gue bisa kangen juga sama suasana bersama mereka di pekerjaan ini, honestly, i am not “into” this job, i wanna quit actually but i need “this”. setidaknya, dipekerjaan ini gue “menggembangkan diri”. 

Mungkin, alasan gue bertahan dan menganggap ini membahagiakan adalah mereka. Walaupun gue gak setiap saat bersama mereka full time, at least, bukan dalam suasana “terpenjara” seperti sekarang.

Other than that, bantu pemerintah yok dengan #dirumahaja, kalau gak penting-penting amat jangan keluar rumah. Walaupun #dirumahaja, setidaknya gue tetap bisa mengedukasi orang-orang sekitar, tetangga dan keluarga.

Kalau punya gejala, isolasi dirumah dulu, kalau keadaan sedikit lebih parah, hubungi tim medis, jangan keluar rumah intinya, tim medis bakalan nyamperin kalian. Untuk mengedukasi orang banyak, gue rasa gue bukan orang yang berkompeten untuk melakukan itu (perhaps)

Rabu, 25 Maret 2020

Satu Pelindung Gue Pergi

..
29 Maret 2014, tepat 6 tahun yang lalu,  Hari terakhir adik gue, Tegar,  ada di dunia ini.  Kira-kira jam 11 malam dia menghembuskan nafasnya yang terakhir,  gue gak liat perjuangan nafas terakhirnya dia. 

1 bulanan sebelum itu,  dia mengeluh sakit dibagian perutnya. Ibu gue bawa dia kerumah sakit untuk diperiksa,  sesampainya di rumah sakit,  dokter check keadaan dia dan dokter bilang dia kemungkinan gejala urus buntu.  Gejala-gejala yang dia rasakan mungkin mirip sama usus buntu. Gue juga gak paham kenapa dokter bilang itu usus buntu. Dan akhirnya dokter ngasih dia obat sebagai pertolongan pertama.  Dan sesampainya dirumah, everything is fine. Tapi sebelum dia check ke dokter,  beberapa minggu sebelumnya dia bilang kalau bagian bawah perut berasa keras dan gue gak tau kenapa.  Orang tua gue cuma bilang,  atur pola makan, nanti magh karena pada dasarnya dia punya pola makan yang sangat berantakan,  sehari bisa makan cuma sekali doang. 

Singkat cerita,  selang beberapa hari dia ngeluh sakit lagi dan dia bener-bener ngeluh sakit,  akhirnya ibu dan kakak gue bawa dia ke dokter spesialis bagian dalam.  Waktu pemeriksaan, dokter itu langsung bilang ada tumor di perutnya dan harus segera dioperasi.  Dia ngasih rujukan ke dokter spesialis dalam lainnya yang bisa menangani masalah ini. 

Waktu itu gue masih di Padang, kuliah. Setelah periksa,  kakak gue telpon dan ngasih tau sakit adik gue,  dan sumpah syok.  Kok bisa anak 16 tahun punya penyakit tumor.  Gak pernah ada pikiran dia bakalan punya tumor kayak gitu.  Gak tau kenapa,  gue sedih sekali waktu itu, berasa ada yang luka,  tapi gak tau dimana.  Gue nangis waktu tau ada tumor di tubuhnya dia.

Pengobatan masih tetap di lakuin.  Kakak gue bawa dia ke dokter rujukan dari dokter sebelumnya.  Waktu konsultasi, dokter itu bilang ada 2 tumor yang ada di bagian perut adik gue,  sebelah kiri dan kanan.  Kalau kakak gue setuju,  hari itu bisa langsung di operasi,  tapi pengangkatan tumor cuma bisa dilakuin untuk 1 tumor aja.  Tanpa adanya ronsen dan persiapan lainnya serta cuma 1 tumor yang diangkat, kakak dan orang tua gue menolak tindakan itu dan mereka minta untuk dirujuk kerumah sakit aja.  

Setelah mendapatkan rujukan,  Adik gue dioper ke rumah sakit di daerah bukittinggi. Keadaan dia udah semakin lemah dan gue belum liat keadaannya dia karena gue masih stay di Padang. 

Adik gue harus bolak balik payakumbuh-bukittinggi buat check kesehatan, ronsen dan prosedur medikal lainnya untuk penanganan tumor ini. Setelah ronsen,  dokter bilang kalau tumor ini ada dua,  kiri dan kanan dan salah satu tumor itu lebih besar dari yang satunya. Diameter salah satu tumor 14 atau 19 cm (gue lupa) dan tumor itu gak ada kantongnya.

Lebih kurang semingguan sebelum dirawat dia bolak balik Payakumbuh-Bukittinggi.  Sebenarnya dia bisa aja tinggal di kosan kakak gue,  tapi ada hal yang gak bisa dilakuin.  Ibu gue pernah cerita, dia gak mau tinggal di kosan kakak gue dan pengen balik ke payakumbuh,  karena dia pengen makan mie ayam. Ibu gue bilang,  "disini kan ada mie ayam yang lain,  kenapa harus ke Payakumbuh?" dan dia kekeh mau ke Payakumbuh aja. 

Jumat, 21 maret 2014, check up terakhir dia sebelum dirawat. Dokter cuma bilang akan dijadwalkan operasi untuk Adik gue,  tapi sekarang bisa pulang dulu,  tapi kalau sakitnya gak tertahan lagi,  bisa langsung dibawa ke rumah sakit lagi.  Dia balik ke Payakumbuh hari itu.  Semuanya masih bisa dia tahan. 

Sabtu,  22 maret 2014. Dia nangis karena gak tahan sama sakitnya.  Orang tua gue bawa dia ke rumah sakit lagi dan akhirnya dia di rawat.  Adik gue gak bisa langsung di operasi karena ada beberapa prosedur yang harus dia jalani. 

Perawatan masih tetap dilakukan,  cek darah tiap hari.  Gue telpon tiap hari tanyain keadaan dia.  Semuanya masih sama, gak ada perubahan. 


Senin malam gue telpon orang tua, dan ada yang lain.  Ibu gue mulai nangis ceritain keadaan Adik gue.  Gue bingung harus apa. Dan akhirnya selasa pagi gue berangkat ke Bukittinggi.

Disitu, gue liat dia pasien terlemah yang ada di ruangan itu.  Dia kurus dan sangat berbeda waktu terakhir gue liat dia.  Karena sebelumnya dia sempat gemuk ala anak-anak baru gede lainnya.  Walaupun lagi lemah,  dia masih sempet becandain gue.  

Semuanya masih sama. Tindakan operasi cuma wacana aja.  Mereka bahkan udah minta kesiapan darah kalau terjadi apa-apa.  Orang-orang udah datang menjenguk dan mendoakan kesehatan tegar. 

Operasi masih belum bisa dilakukan karena adik gue dalam keadaan tensi tinggi.  

Beberapa hari berlalu,  dan akhirnya Dia akan dijadwalkan operasi pada hari sabtu, 29 maret 2014. Malamnya dia harus puasa. 

Gue dan keluarga sangat bahagia sama jadwal ini.  Menurut gue,  dengan selesainya operasi dia bakalan sehat dan pulih kembali.

Malam sebelum operasi dia kepanasan dan minta keluar ruangan.  Kami bawa dia keluar ruangan, menghirup udara segar.  Kami sadar udara malam disana gak begitu bagus, tapi dia kekeh mau ada diluar. Ibu gue sempet sedikit marah sama dia dan akhirnya kami masuk kembali.

Pagi datang.  Hari dimana harusnya adik gue di operasi, menghilangkan sumber penyakitnya.  Dokter ngasih dia baju seragam operasi. 

Kami sangat menanti-nanti hari itu.  Kemudian ibu dan ayah gue di panggil dokter, kami kira itu adalah untuk menanda tangani surat operasi pada umumnya,  ternyata dokter itu bilang mereka harus menunda operasi adik gue karena beberapa hal. Ibu gue nangis. Dan seketika, pagi yang cerah kembali berawan, hujan, badai. Gue frustasi lagi.  Keluarga gue frustasi lagi. Adik gue pun pasrah.

Dokter dan beberapa perawat kembali ngambil sampel darah adik gue,  gue gak tau untuk apa.  Ayah gue yang frustasi,  akhirnya marah marah sama perawat.  Sangat kecewa mungkin. 

Adik gue mengizinkan kami duduk berdekatan dengan dia hari itu,  sebelum-sebelumnya dia tidak pernah mau ada orang lain di dekatnya,  karena gerah.  Pagi itu dia pasrah, seakan akan sudah mau menyerah.  

Gue?  Frustasi tapi gue harus menenangkan orang tua gue.  Pura-pura baik baik saja. 

Adik gue  makin parah,  siangnya dia dibawa ke ruangan HCU. Alat-alat lainnya dipasangkan ke tubuhnya.  Bukan hanya infus dan oksigen. Baju seragam operasi yang diberikan dokter gue buang.  Karena ada perasaan sangat kecewa sama baju itu. 

Diruangan HCU cuma bisa dijaga sama 1 orang saja.  Karena gak ada tempat buat gue, sorenya gue istirahat di kosan kakak bersama dengan temen kakak gue. Gue diantar kakak dan temennya. 

Setelah magrib,  kakak gue ditelpon orang tua karena adik gue nyariin dia dan ternyata dia sudah dipindahkan ke ruangan ICU. Keadaan dia makin drop.

Sebelum tengah malam,  kira kira jam 11 malam,  gue dibangunin temen kakak gue,  ngajak ke rumah sakit.  Pertanyaan gue cuma 1 "tegar kenapa?", gue udah yakin sesuatu pasti terjadi sama dia.  Dan sampai dirumah sakit,  semuanya nangis, ayah, ibu, lemah,  pingsan dan nangis.  Kakak gue nangis dan ditenangkan sama beberapa kerabat lainnya.  Gue? Masih "seakan-akan" baik baik saja.  Gue gak nangis.

Satu pelindung gue, pergi.

Ada yang patah,  tapi gak tau apa, ada batu besar yang dihempaskan ketubuh,  seakan-akan lo kayak ditampar, dipukul, dihantam,  tanpa defense apa-apa, tangan lo gak ada daya buat menutupi muka,  badan lo seakan pasrah, gak ada yang melindungi.  Gue mencoba buat sadar, mengumpulkan nyawa-nyawa yang hampir pergi. Meyakinkan diri untuk tidak menangis, kalut,  everything is fine. Gue liat manusia yang sudah tidak bernyawa itu,  pertama kalinya dihidup gue melihat tubuh tidak bernyawa, dan itu adalah adik laki-laki satu-satunya gue. Adik laki-laki kesayangan kami. Gue cuma bilang "hati-hati disana,  rest in peace".


Setelah semuanya selesai,  tegar bisa di bawa pulang,  sesampainya dirumah,  jam 2an,  semuanya sudah siap,  gue liat satu adik gue lagi, lebih menyedihkan, dia sendiri dengan berita terbangsat yang pernah ada.  Kami dibantu tetangga-tetangga untuk menyiapkan prosesi untuk tegar.

No One can changes if God want things that belongs to Him came back to Him.  Sebagai manusia biasa, gue belum bisa percaya dan ikhlas sama kepulangan dia waktu itu. Terlebih 4 maret adalah ulang tahunnya yang ke 16, dia "pulang" 25 hari setelah ulang tahunnya.

I try to me normal around "crazy" people.  Gue mencoba untuk gak nangis,  pura-pura baik-baik saja, tapi hal itu hal terbrengsek yang pernah gue lakuin. Sampai sekarang luka itu masih ada, masih ternga-nga,  masih berdarah. 

Gue sedikit belajar dari masa sulit itu,  if you wanna cry,  let it be. You deserve to crying if you need to cry.   If it is hard,  tell that it is hard.  Do not pretending that everything is fine. Lo juga manusia, bisa merasakan semua rasa,  termasuk kesedihan.  Lo di izinkan untuk sedih sewajarnya.  ketika sesuatu itu sakit, feel the pain, waktu bakalan nyembuhin luka itu.  Selama ini gue selalu denial, menyakinkan diri gue kalau semuanya baik-baik aja.  Itu salah.


Tumor gak berkantong itu udah sodaraan sama kanker.  Gue masih belum bisa percaya anak 16 tahun kena kanker.  Gue kira akan baik-baik saja, karena dia "terlihat" sangat sehat,  tapi ternyata dia tumbuh bersama kanker aktif ditubuhnya. it kills him slowly at first, dan selama lo gak sadar dia membunuh lo begitu aja. 

6 tahun berlalu, time flies so fast,  tapi gak ada dia detak jam dinding semakin keras terdengar.  life is still cruel without you bro. i wish you have peace in your rest. Alfatihah.  πŸ™πŸ™ 

Sabtu, 26 Oktober 2019

Penting Dilakukan di Imigrasi untuk Buat Paspor


cara mendapatkan antrian di imigrasi untuk bikin paspor, bisa klik disini!!

Yang harus dilakukan setelah sampai dikantor imigrasi adalah celigak-celinguk liatin orang-orang lain ngantri and think what must I do, hahaha. Serius-serius.. yang harus dilakukan adalah mengunjungi pak satpam dan minta nomor antrian sesungguhnya. Hari itu gue dapat jadwal jam 10, tapi setengah 10 gue udah ada disana, setelah tanya satpam gue di arahkan ketemu abang-abang imigrasi dan minta form pendaftaran, disana cingudeul akan ditanya mau kemana dan jawab aja bagaimana mestinya, kemudian nama chingudeul akan di cek di kertas dia, kemudian diberikan form pendaftaran dan map (gratis), setelah itu isi form yang disediakan, dan masukkan syarat yang dibutuhkan.

Untuk syaratnya sendiri adalah fotocopy KTP, fotocopy ijazah atau akte kelahiran, dan fotocopy kartu keluarga, fotocopynya harus satu lembar kertas A4, gak boleh di potong-potong. Setelah itu, kunjungi kembali satpam yang tadi dan minta nomor antrian sesungguhnya. Tunggu sampai nomor antrian kamu terpanggil.

Setelah nomor kamu dipanggil, bapak-bapak imigrasi bakalan ngecek kelengkapan dokumen kamu dan sedikit tanya-tanya “mau kemana”, disana juga ditanya dokumen aslinya. Nanti bakalan dicocokan seluruh nama dengan dokumen tersebut, ketiga dokumen itu harus memuat nama yang sama, nama kamu, ibu dan ayah, harus sama sampai ke titik dan komanya.

(Gue sebenarnya udah 2 kali daftar, yang pertama gue batal ke imigrasi gara-gara Kartu keluarga asli *hilang. Kesal, marah dan kecewa sebenarnya karena Kartu Keluarga itu, biasanya ada dirumah, tapi malam sebelum gue mau ke imigrasi, Ibu gue bilang kalau KK asli dipinjam adiknya (orang-orang bilang “Om”) (adik Ibu gue satu KK sama gue, buat ngurus sesuatu yang gue gak peduli. Sebenarnya gak hilang sih, dia pinjem buat ngurus sesuatu dan dititipkan sama orang lain. dan sampai sekarang dia gak bisa ngambil KK itu lagi. Dan gue berinisiatif buat anggap KK itu udah hilang, 1 bulan setelah kejadian itu gue urus KK lagi. Dan selesai hari itu juga. OOT banget yaaakkk…. Hahahahaha

Perlu diingat lagi, kalau bikin nama yang normal-normal aja. Karena kemarena nama ayah gue memuat titik setelah huruf (misalnnya M. BUDI), kalau M(titik) budi, berarti M adalah singkatan. Dan ayah gue dari sejak gue kenal emang namanya M.blabla itu dan gue gak tau apa itu singkatan atau bukan. Kalau bukan singkatan gue disuruh untuk menghilangkan titik disemua dokumen gue, ribet. Dan akhirnya gue bikin surat pernyataan untuk menyatakan arti dari huruf M tersebut, tulis tangan aja dan ditanda tangani pakai materai 6000. (kalau ternyata nama ayah gue bukan singkatan itu, gue bisa dipidana nih… hadeeeuuuuhhhhhh).

Setelah pengecekan dokumen clear, selanjutnya adalah sesi foto, dan kamu harus antri lagi buat difoto. Setelah nama kamu terpanggil, kamu masuk ke ruang foto, dan di sana bakalan ditanya kakak-kakak imigrasi “mau kemana”, bosan gue jawab ini, karena gak mungkin gue jawab “gak kemana-mana Cuma pengen bikin paspor aja biar keren”, gak mungkin kan?. setelah itu foto, dan gue gak mau pamer foto paspor gue ke orang-orang, selamanya. Gue belum liat hasilnya dan gue yakin foto gue JELEK SEKALI, karena awkward banget posenya, kerudung harus dimundurin karena jidat sama alis harus keliatan, gak boleh senyum. Gue yakin gue kayak tersangka penyabungan ayam bahkan lebih parah. Tapi yaudah sih, gue aslinya lebih cantik daripada di foto. Hahahahaha

Setelah foto, kamu akan di beri tanda terima dan slip pembayaran yang harus dibayar untuk pembuatan paspor ini, biayanya 350.000 dan bisa dibayar dipos atau bank. Gue kemaren bayar di pos, karena pak pos udah standby ada di lingkungan kantor imigrasi itu. Setelah itu, selasai, tunggu 7 hari maksimal setelah pembayaran, paspor kamu jadi. Kalau selama 30 hari setelah bayar gak di ambil, paspor kamu akan di batalkan otomatis.

Lets travel the world~~

Mendapatkan antrian bikin Paspor

Annyeong chingudeul~
Out of topic dulu kali yak, sekarang gue mau menggunakan subjek “Gue” di blog ini karena menurut gue kalau menggunakan subjek “aku” terkesan imut banget, subjek “saya”, terlalu formal, subjek “gaeguri”, orang-orang gak paham apa itu gaeguri dan menurut gue, penggunaan subjek “nama” juga masih terkesan cute banget, jadi sekarang gue mau menggunakan subjek “Gue” untuk blog ini, mau cocok atau enggak, I DO NOT CARE, like always. Hahaha..

Masih pengen ke luar negeri gak chingudeul?. Kalau gue masih pengen banget, dan sekarang lagi berusaha untuk sampai ke keinginan gue itu. Salah satu berkas yang gak boleh terlewatkan untuk bisa sampai ke luar negeri adalah paspor. Chingudeul udah punya paspor belum?.

Kalau belum, yok belajar cara membuat paspor dari blog ini. Sebenarnya di situs imigrasi udah sangat jelas penjelasan tentang mekanisme pembuatan paspor ini, but I wanna share how to make a passport based on my experience waktu bikin paspor ini.

Cara pertama adalah kamu harus mendaftarkan diri di aplikasi layanan paspor online, aplikasinya bisa di download di playstore atau app store. Pendaftaran diri di aplikasi ini penting untuk mendapatkan kuota antrian di kantor imigrasi. Karena sekarang sistemnya serba online, kalau chingudeul enggak daftar online dulu, itu kerjaan sia-sia karena kamu gak bakalan dilayani disana.



Setelah download aplikasi ini, selanjutnya chingudeul bikin akun bisa dengan menggunakan akun google atau facebook. Kemaren gue daftar dengan menggunakan akun google, setelah chingudeul klik “dengan menggunakan google”,akan muncul pilihan daftar email yang terdaftar di handphone chingdeul, pilih salah satu alamat email dan selanjutnya akan di muncul pemberitahuan bahwa “Email anda tidak terdaftar, daftar sekarang?”. Kemudian klik OK.


Selanjutnya chingudeul akan di arahkan ke form yang harus diisi, bagian ini harus di isi sejujurnya karena akan menjadi patokan untuk data yang akan didaftarkan. Dalam form tersebut memuat informasi Nomor induk kependudukan (KTP), tanggal lahir, nama lengkap, Username (gunakan username yang mudah di ingat karena ini berguna untuk proses log in selanjutnya), password, konfirmasi password, email (nah, alamat email ini udah default sesuai dengan akun google yang kita daftarkan sebelumnya), kemudian nomor handphone, jenis kelamin, alamat sesuai KTP, provinsi, kabupaten/kota, dan kecamatan. Setelah semua terisi, klik daftar.


Setelah itu, akun chingudeul akan segera aktif dan di arahkan ke menu log in kembali. Kemudian masukkan username dan password yang udah di bikin sebelumnya, dan log in. setelah berhasil log in, chingudeul akan disuguhkan sama aturan dan kebijakan dari pihak imigrasi, jangan malas buat baca. Oke. Perlu di ingat bahwa, pendaftaran untuk mendapatka kuota antrian ini, hanya bisa 1 x 30 hari. Maksudnya, kalau chingudeul gak hadir pada saat jadwal yang di tetapkan sebelumnya, chingudeul baru bisa daftar lagi kalau udah 30 hari berikutnya. Paham gak? Jadi kalau udah daftar, you must go at that time, jangan lupa.


Untuk pendaftaran antrian ini, chingudeul Cuma bisa daftar setiap hari Jumat setelah jam 2 sampai hari Minggu jam 4.


Setelah sesuai jadwalnya, klik “Antrian Pasport”, chingudeul akan di arahkan ke pilihan kantor imigrasi terdekat dengan domisili chingudeul. Klik kantor imigrasi yang chingudeul inginkan, kemudian isikan jumlah pemohon (jumlah pemohon ini bisa diisikan sampai 5 orang yang terdiri dari keluarga inti aja, misalnya pribadi, ibu, ayah, suami/istri dan anak, pilihan kakak, adik atau teman gak ada), pilih tanggal kedatangan (tanggal kedatangan ini adalah tanggal seminggu (senin sampai jumat) di minggu berikutnya daftar, misalnya chingudeul daftar di hari Jumat minggu pertama bulan Oktober, nah, jadwal kedatangan chingudeul adalah hari Senin sampai hari Jumat di Minggu kedua bulan Oktober. Di tanggal kedatangan ini,warna hijau adalah kuota yang masih tersedia, warna biru tanggal yang dipilih, warna kuning adalah kuota yang belum dibuka dan warna merah adalah kuota habis.



Setelah pilih tanggal kedatangan, chingudeul akan memilih waktu kedatangan. Waktu kedatangan ini dibagi 2, pagi jam 8 dan siang jam 1. Setelah tanggal dan waktu kedatangan dipilih akan muncul jumlah kuota yang tersedia, email dan alamat kantor imigrasi terisi otomatis. Selanjutnya adalah mengisi data-data para pemohon. Pemohon pertama terisi otomatis sesuai dengan data yang kita daftarkan di awal tadi, dan data pemohon kedua dan selanjutnya disesuaikan dengan yang dibutuhkan. Kemudian klik daftar dan muncul notifikasi berhasil.

Setelah berhasil chingudeul akan mendapatkan QR-Code atau kode booking antrian, bisa di screenshot atau simpan pdf. Disana memuat informasi NIK, nama, alamat kantor immigrasi dan waktu. Untuk waktu ini, kemaren gue pilih jam 8 pagi dan kebagian jadwal jam 10 sampai 11.


Setelah mendapatkan QR-Code tersebut, chingudeul tinggal nunggu jadwal yang di dapat tersebut, dan hadir pada jam yang telah diperoleh di kantor imigrasi yang sudah dipilih.

Sabtu, 12 Oktober 2019

Patbingsoo, Makanan Manis dari Korea


Annyeong chingudeul~~


Makanan korea pertama yang pernah gue cicipi adalah kimchi, makanan khas nan wajib ada di korea, dan rasanya gue gak suka. Udah itu aja. Kecintaan gue sama korea gak memudar gitu aja setelah makan kimchi yang gak gue suka itu, walaupun udah gak nonton drama korea lagi, semangat juang gue untuk mencari makanan korea favorit gak luntur gitu aja. Makanan korea kedua gue adalah sekeluarga dessert yang manis-manis dan dingin-dingin. Coba tebak?? (ketahuan dari judulnya yaaa kan.. d blog mah gak bisa rahasia-rahasiaan. Hahaha). Yaappp… ini adalah Patbingsoo, dessert ala korea yang selalu hadir pada saat musim panas.


Patbingsoo ini sejenis es serut yang udah modern. Lol. Waktu jaman gue SD, es serut sangat menjadi primadona, es batu yang diserut kemudian dicetak menyerupai kepalan, lingkaran atau bentuk love kemudian di beri air sirup berwarna-warni yang gue yakin itu bukan sirup marjan.

Patbingsoo awalnya terkenal dengan es serut yang ditmbahkan dengan kacang merah dan sampai sekarang (if I’m not wrong) setiap Patbingsoo ada terkandung kacang merahnya. Patbingsoo yang gue pesan ini bernama “chungmuro patbingsoo” (seinget gue) yang terdiri dari es krim matcha 1 scoop, corn flakes, es serut, kacang merah dan disiram dengan susu matcha. By the way, gue makan ini di Patbingsoo, Pekanbaru.

Rasa dari Chungmuro patbingsoo ini sudah pasti manis-manis dingin dan matcha banget, karena perpaduan antara susu matcha dan es krim matcha yang kental. Dessert ini disajikan dalam bowl khas korea yang wajib ada di drama korea. Dessert pasti selalu cantik dan gak akan rela kalau dimakan, tapi you must eat that dish karena bakalan meleleh dan gak cantik lagi pastinya. Beda sama kimchi , gue suka dessert ini, karena sejatinya dessert gak pernah salah, dan belum ada dessert yang gak enak, yaaa kan?

Varian Patbingsoo di Patbingsoo Pekanbaru ini sangat banyak dan bisa di check di google atau datangi langsung Patbingsoo Pekanbaru. Mereka juga menyediakan makanan-makanan khas korea lainnya seperti tteokbokki, ramyeon, buldak, dan kawan-kawan lainnya. Dan seperti biasa makan diresto korea gak bisa pergi sendiri karena porsinya sangat banyak, bisa sih pergi sendiri kalau porsi makan kamu besar. Untuk patbingsoo ini, kamu juga bisa sharing.

nama - nama kota di korea (cuma 3 kota aja, lol), salah satu corner di patbingsoo pekanbaru


Next,  tempatnya, Patbingsoo pekanbaru yang gue datangi ini terletak didalam SKA Mall Pekanbaru, tempatnya gak begitu luas menurut gue dan gak kecil juga (Gue pernah dimarahi dosen karena gue mendeskripsikan luas sebuah tempat dengan kata-kata “gak begitu luas dan gak begitu kecil”, bagi dosen gue kalau ingin mendeskripsikan luas suatu tempat harus dengan menggunakan angka yang pasti misalnya 100m persegi, etc. Luas tempat itu relative, bisa kecil atau besar sesuai dengan point of view (POV) siapa. Tapi sekarang gue juga gak mungkin mengukur tempat dagangan orang kan, so, luas atau tidaknya tempat ini sesuai dengan POV gue, oke. OOT banget yaaakkkk).




Setiap sisi dinding dihiasi dengan variasi yang berbeda-beda, tapi masih dalam suasana korea. Sisi pertama dihiasi dengan nama-nama kota terkenal yang ada di korea, sisi kedua dihiasi dengan tulisan “patbingsoo pekanbaru” dan ditambah dengan foto-foto menu yang ada di patbingsoo pekanbaru ini. Selanjutnya ada gambar dinding orang lagi main gitar dan ada tulisan selamat datangnya.






Senin, 05 Agustus 2019

Orang Dewasa Bersikap seperti Ini !


“Kalo Gue tau kehidupan “orang dewasa” bakalan sepicik ini, Gue pasti berdoa untuk terlahir tanpa harus menjadi “dewasa”.

Sedih banget gak sih kata-kata ini. Gue Gaeguri, cewek yang udah menginjak 25 tahun dan ditahun ini akan berusia 26 tahun, dan tahun depan bakalan berusia 27 tahun dan 10 tahun yang akan datang dari sekarang akan berusia 36 tahun, dan yaaa… teman-teman itung aja sendiri yaakk, hahaha.. dan sekarang gue masih sendiri (iyaa… gue jomblo, and I still happy dan kadang gue terlihat tidak bahagia atas kejombloan gue ini, and I still survive, it’s okay to be alone, gak ada salahnya, (oke gue tau gue Cuma menghibur diri, karena kenyataannya, gue butuh teman untuk berkeluh kesah, seseorang yang gue percaya, but I don’t have that person, so gue curhat ke blog aja, gue mau menunjukkan kepada google kalau gue dilema, galau, I need to talk T_T).

Jika usia adalah patokan sebuah “kedewasaan” gue yakin di usia gue sekarang ini gue udah termasuk salah seorang yang dewasa, at least sudah belajar untuk menjadi dewasa. Gue terkadang terlihat dan bersikap seperti “anak kecil” karena muka gue yang baby face dan gue yakin muka gue tidak mencerminkan seseorang yang berusia 25 tahun (betapa Pede-nya gue atas ke_baby face_an ini, dan gue berharap teman-teman semua mempercayai keputusan gue untuk menobatkan diri sebagai seseorang yang baby_face, Gue mohon!), tapi dengan sikap yang kadang “seperti anak kecil” ini, di suatu sisi, gue mempunyai kedewasaan yang mendalam (apaan sihh?).

Gue terlahir dari keluarga yang “bermasalah” (keluarga mana sih yang gak punya masalah?) dan atas permasalahan-permasalahan yang ada di 25 tahun kehidupan gue menjadikan gue orang yang lebih “dewasa” sebelum waktunya. Dan karena sifat gue yang pendiam, menjadikan gue lebih sering melihat sekeliling gue, lebih sering menilai orang lain dan belajar dari orang lain itu untuk bersikap “seharusnya”. Banyak permasalahan-permasalahan yang pernah gue hadapi dan orang lain hadapi yang pernah gue saksikan. Dan dari kejadian-kejadian itu, gue menyadari “kedewasaan” bukan tentang usia. Dan gue tidak mengerti “penilaian” tentang “kedewasaan” ini parameter dan variable penilaiannya harus berdasarkan apa, tapi yang jelas, usia bukan patokan.

Jika usia adalah patokan kedewasaan, seharusnya semakin tua seseorang tingkat kedewasaannya semakin meningkat. Dan yang gue temui di sekeliling gue, justru semakin tua seseorang, seseorang tersebut semakin “kekanak-kanakan (Read : tidak dewasa)”.

Sikap orang  dewasa yang tua yang gue temui misalnya, si-Ani berteman dengan si-Budi, dan si-Ani musuhan dengan si-Cici, karena si-Ani dan si-Budi berteman, maka si-Ani menghasut si-Budi untuk musuhan juga dengan si-Cici., (gue harap kalian paham). atau si-Ani berteman dengan si-Budi, si-Cici berteman dengan si-Didi, karena si-Ani musuhan sama si-Cici, si-Didi juga ikut dimusuhi oleh si-Ani karena si-Didi terlalu dekat dengan si-Cici. Seperti itukah sikap seseorang yang “dewasa” ? . gue seriusan nanya, .SEPERTI ITUKAH SIKAP SESEORANG YANG "DEWASA" ? kadang gue sangat miris melihat situasi yang seperti ini, dengan keadaaan yang seperti ini, gak ada bedanya dengan “Gue” dijaman gue SD dulu. 

Kalau “sikap” ini bisa dikatakan “Dewasa” berarti, di jaman gue SD sudah menggambarkan kedewasaan gue. Gue yakin ini salah. Gue yakin, seseoarang yang dewasa tidak akan mencampur aduk-an permasalahannya dengan satu orang dengan orang lain. Sebagai seorang cewek single 25 tahun, gue gak mudah terhasut sama permasalahan-permasalahan orang lain dengan orang lainnya. Gue “masa bodoh” dengan permasalahan orang lain, mau orang lain itu musuh bebuyutan, I don’t care, selama itu tidak ada urusannya sama gue.

Contoh lainnya, si-Ani gak suka sama si-Budi karena KATANYA si-Cici, si-Budi punya teman yang suka keluyuran malam. Orang dewasa, gue kira tidak mudah terpengaruh sama “kata” orang lainnya yang faktanya belum tentu benar. Gue kalau gak suka sama orang yaa gak suka aja, dan kalaupun suka dengan orang lain, yaaa suka aja. Tidak ada alasan khusus untuk gue bisa suka tau tidak dengan orang lain. Dan bagi gue memusuhi orang lain karena hasutan orang lain atau cuma ngikutin orang lain adalah kekanak-kanakan.

Orang-orang dewasa disekeliling gue terlalu peduli dengan orang lain, tapi lupa dengan dirinya sendiri. Misalnya, terlalu peduli dengan penampilan orang lain, peduli dengan apa yang dikenakan orang lain, peduli dengan pendapatan orang lain dan parahnya juga peduli dengan hutang orang lain. orang-orang dewasa disekeliling gue terlalu peduli atas kesalahan apapun yang orang lain perbuat. Sebegitu pentingnya bagi mereka menghitung “kesalahan” yang dilakukan orang lain.  yaa… mungkin mereka ingin mengingatkan orang lain supaya orang lain itu do something yang berpahala dan berkah doang, apa itu penting banget yakkk??. Sejujurnya gue pengen berkata kasar, tapi gue tau itu sikap bodoh. Oke.. jangan berkata kasar, Gaeguri !!!

Sebagai orang yang "bodo amat" dengan apapun, bagian menasehati orang lain dengan hal yang tidak penting adalah buang-buang waktu dan don’t judge other with your stupid thought. Gue yakin apapun yang dilakukan orang lain, mereka tau apa resikonya, mereka tau konsekuensinya, mereka tau apa yang salah dan benar dan mereka paham dampaknya apa. Stop judging, it is disgusting, menurut gue.

Banyak orang dewasa yang sok meng-gurui dan berlomba-lomba untuk menjadi nomor satu. Apa penting di kehidupan ini selalu menjadi nomor satu, apa sebegitu pentingnya menjadikan sesuatu di kehidupan ini seperti sebuah perlombaan? Suatu perlombaan yang jika kalah maka kita bersiap untuk menginjak orang lain agar suatu saat bisa menjadi nomor satu.?. berambisi untuk menjadi yang terbaik itu penting, tapi terlalu berambisi dan menunjukkan kepada orang lain kalau kita “baik” apa itu penting? Apakah sikap orang dewasa seperti itu?? Kalau itu dimaklumi menjadi sikap orang dewasa, apa bedanya dengan anak Taman kanak-kanak yang menangis kepada orang tua karena kalah dalam suatu permainan petak umpet??

Gue yakin, orang-orang yang benar-benar dewasa tidak sepicik itu, orang dewasa lebih bisa mengalah, bukan berarti mereka kalah, tapi dengan mengalah mereka bisa menunjukkan bagaimana arti sebuah kemenangan. Orang-orang dewasa banyak memilih diam karena mereka yakin dengan mereka diam, bisa menjawab “ketidak dewasaan” seseorang. Orang dewasa tidak berpikiran sempit, orang dewasa bisa melihat sedikit celah kebaikan dari keburukan orang lain.



Diberdayakan oleh Blogger.

Comment

 
Gaeguri Story Blogger Template by Ipietoon Blogger Template