Saturday, September 14, 2019

Let it go, Move On~

Jangan chat dia lagi
Jangan pancing dia buat ngechat
Jangan buat status whatsapp agar dia komen
Jangan kunjungi profil dia lagi
Jangan lihat last seen dia lagi
Jangan tunggu dia online
Jangan berharap dihubungi

---------------------------------------------

Kamu baik-baik saja beberapa minggu belakangan
Kamu sudah tidak mengharapkannya
Kamu cukup tegar
Kamu sudah tidak stress
Jangan biarkan dirimu stres lagi
Jangan biarkan dirimu sedih berkepanjangan
Jangan biarkan air matamu menetes untuknya
Dia tidak akan tahu betapa sedih dirimu
Dia tidak akan peduli jika terjadi sesuatu denganmu
Dia tidak akan peduli ada atau tidak dirimu,
Dia tidak akan peduli ada atau tidak pesan darimu,
Dia tidak akan peduli ada atau tidak telpon darimu,
Dia tidak akan mencarimu.

Justru,..
Dia akan bahagia tanpa ada kamu..

You strong enough to live with your own feet
You brave enough to let your ego to not communicate with him

Find your own happiness,.

Jika kamu berpikir dia adalah "kebahagiaanmu",
Pikir kembali..
"apakah orang yang membuatmu bahagia adalah orang
 yang membuatmu meneteskan air mata setiap malam"?
"apakah orang yang membuatmu bahagia adalah dia yang mengabaikanmu"?

Kebahagiaan adalah yang menciptakan kedamaian,  bukan kegelisahan,.

Find your own happiness
Stay busy
Do positive
Stay productive
Let it go

Hidup bukan hanya tentang "pasangan hidup"
Apa yang akan menjadi takdirmu tidak akan pernah melewatkanmu ~

Usahamu sudah cukup,  Doa,  and let Allah do His magic..

What is yours,  will find you..


Monday, August 5, 2019

Orang Dewasa Bersikap seperti Ini !


“Kalo Gue tau kehidupan “orang dewasa” bakalan sepicik ini, Gue pasti berdoa untuk terlahir tanpa harus menjadi “dewasa”.

Sedih banget gak sih kata-kata ini. Gue Gaeguri, cewek yang udah menginjak 25 tahun dan ditahun ini akan berusia 26 tahun, dan tahun depan bakalan berusia 27 tahun dan 10 tahun yang akan datang dari sekarang akan berusia 36 tahun, dan yaaa… teman-teman itung aja sendiri yaakk, hahaha.. dan sekarang gue masih sendiri (iyaa… gue jomblo, and I still happy dan kadang gue terlihat tidak bahagia atas kejombloan gue ini, and I still survive, it’s okay to be alone, gak ada salahnya, (oke gue tau gue Cuma menghibur diri, karena kenyataannya, gue butuh teman untuk berkeluh kesah, seseorang yang gue percaya, but I don’t have that person, so gue curhat ke blog aja, gue mau menunjukkan kepada google kalau gue dilema, galau, I need to talk T_T).

Jika usia adalah patokan sebuah “kedewasaan” gue yakin di usia gue sekarang ini gue udah termasuk salah seorang yang dewasa, at least sudah belajar untuk menjadi dewasa. Gue terkadang terlihat dan bersikap seperti “anak kecil” karena muka gue yang baby face dan gue yakin muka gue tidak mencerminkan seseorang yang berusia 25 tahun (betapa Pede-nya gue atas ke_baby face_an ini, dan gue berharap teman-teman semua mempercayai keputusan gue untuk menobatkan diri sebagai seseorang yang baby_face, Gue mohon!), tapi dengan sikap yang kadang “seperti anak kecil” ini, di suatu sisi, gue mempunyai kedewasaan yang mendalam (apaan sihh?). Gue terlahir dari keluarga yang “bermasalah” (keluarga mana sih yang gak punya masalah?) dan atas permasalahan-permasalahan yang ada di 25 tahun kehidupan gue menjadikan gue orang yang lebih “dewasa” sebelum waktunya. Dan karena sifat gue yang pendiam, menjadikan gue lebih sering melihat sekeliling gue, lebih sering menilai orang lain dan belajar dari orang lain itu untuk bersikap “seharusnya”. Banyak permasalahan-permasalahan yang pernah gue hadapi dan orang lain hadapi yang pernah gue saksikan. Dan dari kejadian-kejadian itu, gue menyadari “kedewasaan” bukan tentang usia. Dan gue tidak mengerti “penilaian” tentang “kedewasaan” ini parameter dan variable penilaiannya harus berdasarkan apa, tapi yang jelas, usia bukan patokan.

Jika usia adalah patokan kedewasaan, seharusnya semakin tua seseorang tingkat kedewasaannya semakin meningkat. Dan yang gue temui di sekeliling gue, justru semakin tua seseorang, seseorang tersebut semakin “kekanak-kanakan (Read : tidak dewasa)”.

Sikap orang  dewasa yang tua yang gue temui misalnya, si-Ani berteman dengan si-Budi, dan si-Ani musuhan dengan si-Cici, karena si-Ani dan si-Budi berteman, maka si-Ani menghasut si-Budi untuk musuhan juga dengan si-Cici., (gue harap kalian paham). atau si-Ani berteman dengan si-Budi, si-Cici berteman dengan si-Didi, karena si-Ani musuhan sama si-Cici, si-Didi juga ikut dimusuhi oleh si-Ani karena si-Didi terlalu dekat dengan si-Cici. Seperti itukah sikap seseorang yang “dewasa” ? . gue seriusan nanya, .SEPERTI ITUKAH SIKAP SESEORANG YANG "DEWASA" ? kadang gue sangat miris melihat situasi yang seperti ini, dengan keadaaan yang seperti ini, gak ada bedanya dengan “Gue” dijaman gue SD dulu. 

Kalau “sikap” ini bisa dikatakan “Dewasa” berarti, di jaman gue SD sudah menggambarkan kedewasaan gue. Gue yakin ini salah. Gue yakin, seseoarang yang dewasa tidak akan mencampur aduk-an permasalahannya dengan satu orang dengan orang lain. Sebagai seorang cewek single 25 tahun, gue gak mudah terhasut sama permasalahan-permasalahan orang lain dengan orang lainnya. Gue “masa bodoh” dengan permasalahan orang lain, mau orang lain itu musuh bebuyutan, I don’t care, selama itu tidak ada urusannya sama gue.

Contoh lainnya, si-Ani gak suka sama si-Budi karena KATANYA si-Cici, si-Budi punya teman yang suka keluyuran malam. Orang dewasa, gue kira tidak mudah terpengaruh sama “kata” orang lainnya yang faktanya belum tentu benar. Gue kalau gak suka sama orang yaa gak suka aja, dan kalaupun suka dengan orang lain, yaaa suka aja. Tidak ada alasan khusus untuk gue bisa suka tau tidak dengan orang lain. Dan bagi gue memusuhi orang lain karena hasutan orang lain atau cuma ngikutin orang lain adalah kekanak-kanakan.

Orang-orang dewasa disekeliling gue terlalu peduli dengan orang lain, tapi lupa dengan dirinya sendiri. Misalnya, terlalu peduli dengan penampilan orang lain, peduli dengan apa yang dikenakan orang lain, peduli dengan pendapatan orang lain dan parahnya juga peduli dengan hutang orang lain. orang-orang dewasa disekeliling gue terlalu peduli atas kesalahan apapun yang orang lain perbuat. Sebegitu pentingnya bagi mereka menghitung “kesalahan” yang dilakukan orang lain.  yaa… mungkin mereka ingin mengingatkan orang lain supaya orang lain itu do something yang berpahala dan berkah doang, apa itu penting banget yakkk??. Sejujurnya gue pengen berkata kasar, tapi gue tau itu sikap bodoh. Oke.. jangan berkata kasar, Gaeguri !!!

Sebagai orang yang "bodo amat" dengan apapun, bagian menasehati orang lain dengan hal yang tidak penting adalah buang-buang waktu dan don’t judge other with your stupid thought. Gue yakin apapun yang dilakukan orang lain, mereka tau apa resikonya, mereka tau konsekuensinya, mereka tau apa yang salah dan benar dan mereka paham dampaknya apa. Stop judging, it is disgusting, menurut gue.

Banyak orang dewasa yang sok meng-gurui dan berlomba-lomba untuk menjadi nomor satu. Apa penting di kehidupan ini selalu menjadi nomor satu, apa sebegitu pentingnya menjadikan sesuatu di kehidupan ini seperti sebuah perlombaan? Suatu perlombaan yang jika kalah maka kita bersiap untuk menginjak orang lain agar suatu saat bisa menjadi nomor satu.?. berambisi untuk menjadi yang terbaik itu penting, tapi terlalu berambisi dan menunjukkan kepada orang lain kalau kita “baik” apa itu penting? Apakah sikap orang dewasa seperti itu?? Kalau itu dimaklumi menjadi sikap orang dewasa, apa bedanya dengan anak Taman kanak-kanak yang menangis kepada orang tua karena kalah dalam suatu permainan petak umpet??

Gue yakin, orang-orang yang benar-benar dewasa tidak sepicik itu, orang dewasa lebih bisa mengalah, bukan berarti mereka kalah, tapi dengan mengalah mereka bisa menunjukkan bagaimana arti sebuah kemenangan. Orang-orang dewasa banyak memilih diam karena mereka yakin dengan mereka diam, bisa menjawab “ketidak dewasaan” seseorang. Orang dewasa tidak berpikiran sempit, orang dewasa bisa melihat sedikit celah kebaikan dari keburukan orang lain.



Thursday, December 6, 2018

Reaksi Pertama Kali Makan Kimchi


Annyeong chingudeul~~
It was a long long day since my last post, right?

Tapi bodo amat yaa chingudeul, gue galau.. hahaha galau karena sesuatu yang lebih parah dari sekedar patah hati karena cowok. Guess what!!

Baiklah.. kita akhiri kegalauan ini dan mulai menulis lagi sama sesuatu yang bermanfaat mungkin bagi orang banyak dan buat menuh-menuhin postingan gaeguri di blog ini.

Kali ini gaeguri mau bahas mengenai korea-koreaan lagi yaa chingudeul. Chingudeul pasti tau sama namanya KIMCHI kan?? itu lo makanan khas korea. yang penggemar koreaan drama maupun yang enggak pasti kenal banget sama makanan ini. Kimchi adalah salah satu sayuran khas korea yang proses pembuatannya dengan cara di fermentasi dengan menambahkan pasta cabe khas korea (gochujang) dengan tambahan bumbu-bumbu lainnya. Warna merah kimchi ini sangat menggoda iman yak, ibaratnya nih, kalo kamu lagi gak nafsu makan dan lagi sakit sekalipun, liat makanan ini bawaannya kayak moodbooster buat makan, yaa gak?.
 Hasil gambar untuk kimchi
sumber : google
Sewaktu liat oppa-oppa ganteng kita makan kimchi bawaannya juga pengen makan, setelah itu berasa paling sehat sedunia karena udah makan sayuran. Dan katanya kimchi ini bakalan makin nikmat kalo di sajikan setelah terjadi proses fermentasi selama beberapa hari. Tapi, sebenarnya apakah makan kimchi itu sedemikian nikmatnya kah?? Penggemar kimchi atau yang pernah makan kimchi mana suaranyaaaaa>…………!!!!!!!!!

Jujur ya, sewaktu nulis 18 makanan khas korea di blog ini, belum satupun makanan yang pernah gaeguri cicipin secara rasa, secara nyata. Cuma pernah liat gambar doang atau pun liat video-video tentang makanan itu plus sama ngebayangin nikmatnya makan makanan khas korea itu ditemani dengan Oppa favorit sepanjang masa. Jadi intinya, Cuma khayalan doang dan tidak pernah nyata ,mencicipi makanan itu.

1 tahun yang lalu (mungkin), gaeguri nyoba buat kimchi sama garaetteok (cikal bakalnya tteokbokki, pada tau kan??) dan rasanya?? gak enak sama sekali. ini mungkin karena takaran yang gak bener, proses pembuatan yang semena-mena dan penggunaan bahan yang salah. (waktu itu gaeguri gak pake bubuk cabe, tapi malah pake cabe kriting yang diblender. Hahaha….). oke, waktu itu gaeguri akuin memang gaeguri salah yaa.. mana mungkin bisa menghasilkan suatu rasa yang menggugah rasa, ini malah bikin mulut dan perut mau muntah..

Oke yang pertama failed

Selanjutnya beberapa bulan yang lalu, gaeguri nyoba kimchi kemasan yang katanya di produksi langsung di korea,  harganya lumayan mahal ya untuk sekedar sayuran yang Cuma seuprit doang, untuk ukuran 125 gr (kalo gak salah) dihargai dengan 33ribu rupiah. Mahal banget kan??? kalo  dibeliin ke sawi biasa aja pasti udah dapet berkilo-kilo sawi segar.
 Hasil gambar untuk kimchi
sumber : google
Pertama kali beli kimchi itu, gaeguri sangat excited karena bakalan nyoba makan makanan korea untuk pertama kalinya. Belinya jauh banget pula, 3 jam perjalanan dari daerah gaeguri pake mobil. (niat banget kan, Cuma mau beli ini doang).

Kemasannya berbentuk plastic yang didalamnya sudah dilapisi dengan alumunium foil dan keadaan vakum (kalo gak salah), makanan ini juga disimpan di dalam kulkas, dan kimchi ini udah di produksi selama kurang lebih 25 hari yang lalu, kira-kira kimchi yang terbentuk itu udah setengah sempurna artinya udah bisa di bilang kimchi dehhh…di kemasan juga sudah tertera expired date, kapan diproduksi dan informasi-informasi lainnya.

Waktu buka kemasanpun tiba, srett..srett.. srett (bunyi gunting). Kemasan kimchi udah sedikit terbuka, dan ada bau-bau “busuk” yang tercium. (dan itu bukan bau kentut ataupun bau mulut atau bau ketek ataupun bau kaki ataupun bau-bauan dari badan lainnya, tapi bau yang berasal dari kemasan kimchi). Udah panik dong, makanan ini masih bisa di konsumsi atau emang udah basi. Dari situ, gaeguri mulai searching tentang kimchi ini lagi dan lagi, ternyata sodara-sodara, kimchi itu memang sudah basi. Mygod!!!!!! Dan harusnya memang basi sodara-sodara.. hahaha.. kembali lagi ke arti kimchi, kimchi adalah sayuran yang difermentasi. Proses fermentasi ini, bisa di bilang sebagai proses “pembasian”, yang anak mikrobiologi pangan bantu hamba untuk menjelaskan ini dong.. dan pada intinya, kimchi di kemasannya itu sangat baik untuk dikonsumsi sebagaimana mestinya.

Karena udah yakin kalo itu layak untuk dikonsumsi, gaeguri mulai coba untuk makan. Suapan kecil pertama sukses bikin gaeguri mau muntah, karena mencium bau busuk dari kimchi tersebut. Kemudian setelah dicicipi rasanya asam, kecut dan bau kaus kaki dan bau kaki dan intinya gak enak.  Karena gak yakin sama rasa yang pertama, gaeguri nyoba lagi buat makan, reaksi gaeguri tetap sama aja. Dan coba lagi, tapi di makan bersama dengan mie goreng. Ketika dicampur dengan makanan lain, makanan lain tersebut jadi punya rasa yang berbeda dan kimchinya kayak lebih bisa dimakan, tapi rasanya tetap sama kecut dan ada bau bauan aneh.

Sebenarnya kimchi itu enak kalo “bau-bauan” gak enak itu di tiadakan. Bau-bau itu kayak bersumber dari campuran kimchi seperti ebi atau udang atau something like that. Bisa kali yaa, bikin kimchi tapi gak ditambahkan bahan-bahan tersebut.

Kira-kira seperti itulah first impression gaeguri sewaktu makan kimchi, warna merah kimchi emang menggoda, tapi baud an rasanya “ada sesuatu” yang mengganggu, mungkin kimchi kemasan dengan merek “tersebut” doang kali yaa yang gak enak. Kayaknya gaeguri harus nyobain kimchi sebenarnya di negara asalnya, mungkin bakalan berbeda.

Thank you for reading chingudeul~~ semoga bermanfaat,,, annyeong…~~

Powered by Blogger.

Comment

 
Gaeguri Story Blogger Template by Ipietoon Blogger Template